Masalahnya bukan kuantitas, tetapi kualitas.
Pertama, distribusi stasiun pengisian daya sangat tidak merata. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, stasiun pengisian daya relatif terkonsentrasi di pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran, tetapi di luar Jawa? Maaf, Anda mungkin mengalami "kecemasan jangkauan" hingga menyebabkan kerusakan.
Kedua, standar tidak konsisten. Antarmuka pengisian daya lambat, pengisian daya cepat, dan pengisian daya super berbeda, dan stasiun pengisian daya yang dapat digunakan mobil Anda mungkin sedang "istirahat".
Teman-teman, pernahkah kalian mengalami situasi ini: kalian membuka peta, melihat beberapa stasiun pengisian daya di dekatnya, dengan antusias berkendara ke sana, hanya untuk menemukan bahwa stasiun-stasiun tersebut ditempati oleh mobil bensin, stasiun-stasiun tersebut rusak dan tidak ada yang memperbaikinya, atau kalian perlu mengunduh tiga aplikasi berbeda untuk menggunakannya?
Ini adalah cerminan nyata dari situasi pengisian daya di Indonesia.
Yang lebih membuat frustrasi adalah metode pembayarannya—beberapa memerlukan pembayaran kartu, beberapa memerlukan dompet elektronik khusus, dan beberapa bahkan hanya menerima keanggotaan prabayar. Pergi ke stasiun pengisian daya lebih merepotkan daripada pergi ke kantor pemerintah.
Masalah lain yang sering diabaikan adalah kecepatan pengisian daya. Banyak stasiun pengisian daya cepat hanya memiliki setengah dari daya yang diiklankan. Mengisi daya mobil hingga penuh dapat memakan waktu dua atau tiga jam, dan pada akhir pekan, antrean untuk mengisi daya di tempat parkir bawah tanah mal lebih panjang daripada waktu tunggu di restoran.
Pada akhirnya, stasiun pengisian daya hanyalah langkah pertama. Tanpa standar yang seragam, perawatan yang andal, metode pembayaran yang mudah, dan tata letak yang masuk akal, berapa pun jumlah stasiun yang ada, semuanya hanya untuk pajangan.
Semoga, dalam waktu dekat, mengisi daya kendaraan listrik akan semudah mengisi daya ponsel. Kapan hari itu akan tiba?