Home > Blog > Siapa yang menanggung biaya penurunan performa baterai? "Permainan kata" di balik garansi baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Siapa yang menanggung biaya penurunan performa baterai? "Permainan kata" di balik garansi baterai kendaraan listrik di Indonesia.

By Evelyn July 28th, 2026 23 views
Bagi rekan-rekan di Indonesia: saat hendak membeli kendaraan listrik, apakah Anda tergoda oleh janji meyakinkan dari tenaga penjual mengenai "garansi baterai 8 tahun" atau "garansi seumur hidup"? Tunggu dulu—cermati terlebih dahulu ketentuan rinci yang tertulis dalam syarat dan ketentuan (sering disebut sebagai *fine print*).
Garansi seumur hidup? Hal ini bergantung pada jarak tempuh kendaraan Anda.
Geely telah meluncurkan program garansi baterai seumur hidup untuk model EX5 di Indonesia, dengan janji penggantian gratis jika kesehatan baterai turun di bawah 70%. Namun, ada syarat yang berlaku: jarak tempuh tahunan tidak boleh melebihi 30.000 km, dan penawaran ini hanya berlaku bagi pemilik pertama. Jika Anda membeli kendaraan bekas, mohon maaf—Anda hanya mendapatkan garansi standar 8 tahun atau 180.000 km. Garansi seumur hidup Wuling BinguoEV memiliki ketentuan serupa: terbatas pada pemilik pertama, mensyaratkan jarak tempuh tahunan di bawah 30.000 km, serta mewajibkan servis rutin di bengkel resmi. Jika Anda melewatkan satu kali saja jadwal servis, Anda berisiko kehilangan perlindungan garansi tersebut.

Garansi 8 tahun? Garansi ini hanya mencakup "penurunan kualitas ekstrem," bukan "penurunan kualitas wajar."
Sebagian besar produsen menawarkan garansi baterai selama 8 tahun atau untuk jarak tempuh 160.000 kilometer, namun garansi ini biasanya hanya mencakup penurunan performa yang parah—di mana kapasitas baterai turun hingga di bawah 70%–75%—dan bukan penurunan kualitas yang wajar. Dengan kata lain, jika jarak tempuh kendaraan Anda berkurang 20% ​​atau 30% setelah beberapa tahun dan Anda mencoba mengajukan klaim, pihak produsen akan menyatakan hal tersebut sebagai "penurunan kondisi akibat pemakaian normal" sehingga tidak ditanggung oleh garansi. Polis asuransi kendaraan listrik standar di Indonesia juga tidak secara jelas menanggung risiko penurunan kapasitas baterai.
Garansi menjadi tidak berlaku saat terjadi perpindahan kepemilikan, sehingga pemilik kendaraan bekas harus menanggung risikonya sendiri.

Hal yang lebih menjengkelkan lagi adalah, bagi banyak merek, garansi baterai menjadi hangus begitu terjadi perpindahan kepemilikan. Ini adalah alasan utama mengapa pasar kendaraan listrik (EV) bekas sulit berkembang. Anda mungkin telah merawat mobil dengan sangat apik, namun begitu Anda menjualnya, garansi tersebut hilang—jadi, siapa yang berani membelinya?
"Garansi 8 tahun" yang digembar-gemborkan tenaga penjual memang terdengar menarik, tetapi ketentuan rinci di dalamnya mengungkap kenyataan yang sebenarnya: tidak ada perlindungan untuk penurunan kapasitas baterai akibat pemakaian wajar, garansi hangus saat pindah tangan, pembatalan akibat melebihi batas jarak tempuh, serta hilangnya hak garansi jika perawatan tidak dilakukan di pusat layanan resmi yang ditunjuk.
Siapa yang menanggung biaya saat performa baterai menurun? Coba periksa kembali buku panduan garansi Anda dan cermati ketentuan rincinya. Sebelum membeli kendaraan listrik, bacalah syarat dan ketentuan garansi dari awal hingga akhir; di balik klaim mencolok mengenai perlindungan "seumur hidup" atau "8 tahun" itu, sering kali tersimpan sederet persyaratan yang hampir mustahil untuk dipenuhi.
Stasiun pengisian daya yang rusak dan tidak diperbaiki, serta aplikasi yang sering macet hingga menghalangi proses pengisian daya—inilah kendala sehari-hari yang dihadapi pemilik kendaraan listrik di Indonesia.
Previous
Stasiun pengisian daya yang rusak dan tidak diperbaiki, serta aplikasi yang sering macet hingga menghalangi proses pengisian daya—inilah kendala sehari-hari yang dihadapi pemilik kendaraan listrik di Indonesia.
Read More
Saat ini, banyak pemilik mobil lebih memilih untuk terus mengendarai kendaraan bermesin pembakaran internal mereka yang sudah berumur daripada beralih ke mobil listrik bekas. Menurut Anda, apakah sikap ini masuk akal? Jika Anda hendak membeli mobil listri
Next
Saat ini, banyak pemilik mobil lebih memilih untuk terus mengendarai kendaraan bermesin pembakaran internal mereka yang sudah berumur daripada beralih ke mobil listrik bekas. Menurut Anda, apakah sikap ini masuk akal? Jika Anda hendak membeli mobil listri
Read More