Home > Blog > Produk tidak sesuai iklan? Keluhan konsumen Indonesia melonjak 379%; jebakan apa yang harus dihindari saat membeli kendaraan listrik?

Produk tidak sesuai iklan? Keluhan konsumen Indonesia melonjak 379%; jebakan apa yang harus dihindari saat membeli kendaraan listrik?

By Evelyn March 16th, 2026 47 views
Teman-teman di Jakarta, statistik terbaru di industri kendaraan listrik Indonesia sangat mengkhawatirkan: keluhan konsumen melonjak 379% dari tahun ke tahun. Dengan perubahan kebijakan yang dijadwalkan pada tahun 2026, membeli mobil bukan lagi permainan "buta". Ingin menghindari jebakan di mana "fotonya terlihat menakjubkan, tetapi mobil sebenarnya penuh dengan masalah"? Harap simpan panduan ini.

Jebakan #1: "Perubahan" Subsidi Kebijakan
Kebijakan insentif kendaraan listrik Indonesia akan mengalami perubahan besar pada tahun 2026. Insentif tarif nol dan bebas pajak untuk kendaraan impor utuh (CBU) berakhir pada akhir tahun 2025. Sekarang, saat membeli mobil, Anda harus memperhatikan TKDN (tingkat lokalisasi) – hanya model dengan TKDN 40% atau lebih tinggi (seperti Wuling Air EV dan Hyundai Ioniq 5) yang akan terus menikmati diskon PPN 1%; jika tidak, harganya bisa melonjak 30%-40%. Jangan percaya promosi penjualan yang mengatakan "impor = kelas atas"; begitu kebijakan berubah, harganya akan langsung terasa mahal.

Jebakan kedua: Siklus buruk kendaraan listrik bekas. Jika Anda berpikir kendaraan listrik mempertahankan nilai jualnya dengan baik, Anda naif. Saat ini, pasar kendaraan listrik bekas di Indonesia hanya menyumbang 1% dari transaksi, dan lembaga pembiayaan hampir tidak pernah menawarkan pinjaman mobil bekas karena kekhawatiran akan penurunan nilai jual kembali yang drastis. Yang lebih mengecewakan adalah fakta bahwa seringnya penurunan harga mobil baru dan berakhirnya garansi setelah pengalihan kepemilikan berarti bahwa bahkan dengan pengurangan harga yang signifikan, kendaraan listrik bekas tetap banyak diminati. Kecuali Anda berencana untuk mengendarainya sampai rusak total, jangan sampai terjebak dalam perangkap ini.

Jebakan ketiga: Mengiklankan jangkauan yang lebih jauh versus potensi risiko penarikan kembali. Beberapa merek mengiklankan "jangkauan ultra-jauh" dan "keamanan cerdas," tetapi ini mungkin menyembunyikan masalah baterai yang tersembunyi. Baru bulan ini, Volvo menarik kembali 21 kendaraan EX30 di Indonesia (seperempat dari armada lokalnya) karena modul baterai yang rusak, yang dapat menyebabkan panas berlebih dan kebakaran. Sebelum membeli mobil, pastikan untuk memeriksa: Apakah ada catatan penarikan kembali untuk model ini di Indonesia? Siapa pemasok baterainya? Di mana pusat layanan purna jual berada? Jangan menunggu sampai masalah muncul dan Anda tidak dapat menemukan siapa pun untuk memperbaikinya.

Kesimpulannya, membeli kendaraan listrik di Indonesia saat ini tidak lagi membutuhkan dorongan untuk "mencoba sesuatu yang baru," melainkan pendekatan yang tenang dan terhitung dengan "memperhitungkan segala sesuatunya." Memilih merek dengan tingkat lokalisasi yang tinggi, kepatuhan terhadap kebijakan, dan layanan purna jual yang transparan sangat penting untuk menghindari menjadi bagian dari 379% kendaraan yang memiliki keluhan. Bagaimanapun, menghemat uang dan kerumitan adalah esensi sejati dari "gaya hidup premium."
Masalah garansi dan kesulitan dalam melindungi hak konsumen: Pada tahun 2025, Kementerian Perdagangan Indonesia menerima 7.887 pengaduan, dengan kendaraan listrik menjadi yang paling banyak terkena dampaknya.
Previous
Masalah garansi dan kesulitan dalam melindungi hak konsumen: Pada tahun 2025, Kementerian Perdagangan Indonesia menerima 7.887 pengaduan, dengan kendaraan listrik menjadi yang paling banyak terkena dampaknya.
Read More
Ingin menghapus batas kecepatan dan berkendara lebih cepat? Pertama, pahami risiko dan konsekuensi hukum dari pembatalan garansi.
Next
Ingin menghapus batas kecepatan dan berkendara lebih cepat? Pertama, pahami risiko dan konsekuensi hukum dari pembatalan garansi.
Read More