Menunggu perbaikan hingga tiga minggu dan layanan pelanggan yang tidak berbahasa Indonesia: Sebuah kisah tentang "mimpi buruk purnajual" yang dihadapi pemilik kendaraan listrik di Indonesia.
By Evelyn
July 22nd, 2026
15 views
Bagi sesama penggemar kendaraan listrik (EV) di Indonesia: jika Anda sedang mempertimbangkan untuk beralih ke kendaraan listrik, silakan baca kisah ini terlebih dahulu.
"A," seorang warga Jakarta Selatan, dengan gembira menerima unit kendaraan listrik dari sebuah merek tertentu enam bulan yang lalu. Bulan lalu, di tengah hujan, layar *infotainment* kendaraan tiba-tiba mati total dan tenaga mesin menjadi terbatas; mobil tersebut pun harus diderek ke bengkel resmi di Bandung. Hasilnya? Waktu tunggu perbaikan mencapai tiga minggu—padahal perbaikan itu bukan untuk perombakan besar, melainkan hanya penggantian modul kontrol. Saat ditanya mengenai penyebabnya, teknisi hanya mengangkat bahu: "Suku cadangnya harus didatangkan dari Singapura, dan proses kepabeanannya saja memakan waktu satu minggu." Akibat tidak memiliki mobil selama tiga minggu, "A" terpaksa berdesak-desakan di kereta *commuter line* (KRL) setiap hari; keterlambatan sebanyak tiga kali berujung pada pemotongan yang setara dengan setengah bulan bonus kinerja.
Layanan pelanggan melalui telepon justru jauh lebih menjengkelkan. Xiao A menelepon tujuh atau delapan kali menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Inggris, namun setiap kali ia hanya mendapat tanggapan dalam bahasa Inggris yang diucapkan dengan aksen Tiongkok yang kental—seperti frasa "Please wait" (harap tunggu) dan "We will check" (kami akan memeriksa)—tanpa sepatah kata pun dalam bahasa Indonesia seperti "*Baik*" atau "*Nanti*". Karena frustrasi, Xiao A meluapkan kekesalannya di media sosial: "Saya membayar dengan Rupiah, tetapi layanan yang saya terima justru terasa 'asing'?" Kolom komentar pun dibanjiri tanggapan dari ratusan pemilik kendaraan dengan model yang sama; sebagian mengeluhkan tidak adanya petugas yang datang memperbaiki masalah stasiun pengisian daya yang telah dilaporkan selama tiga hari, sementara yang lain menyoroti sistem penjadwalan perawatan yang sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, sehingga menyulitkan orang tua mereka untuk menggunakannya.
Ini bukanlah "layanan purna jual"; ini justru menjadi resep bagi "penyesalan setelah pembelian". Indonesia merupakan salah satu pasar kendaraan listrik dengan pertumbuhan tercepat di dunia, namun merek tersebut hanya berfokus pada penjualan mobil dan pembangunan stasiun pengisian daya tanpa memedulikan aspek dasar lokalisasi. Mereka gagal menyediakan suku cadang dan mengabaikan pelatihan teknisi, bahkan staf layanan pelanggan pun enggan mempelajari bahasa setempat—apakah mereka berharap para pemilik kendaraan harus lulus tes IELTS setiap kali menghadapi masalah?
Apa arti masa perbaikan selama tiga minggu di Indonesia? Artinya, "Little A" melewatkan acara sekolah anaknya; ia tidak bisa melakukan pengiriman untuk usaha kecilnya; dan kepercayaannya pun perlahan terkikis. Kendaraan listrik mungkin ramah lingkungan dan canggih, namun yang terpenting, kendaraan tersebut adalah alat transportasi untuk dikendarai di jalan raya. Jika merek tersebut terus memperlakukan Indonesia sebagai "lahan uji coba" dan pemilik kendaraan sebagai "kelinci percobaan," maka "mimpi buruk layanan purnajual" berikutnya akan meningkat dari sekadar keluhan di media sosial menjadi kemerosotan penjualan yang nyata.
Berikan kami teknisi yang benar-benar bisa memperbaiki mobil, staf layanan pelanggan yang bisa menyapa "Halo," serta suku cadang yang tidak butuh waktu sebulan untuk tiba. Permintaan itu tidak berlebihan, bukan?
Previous
"Mobilnya sudah terjual—tapi bagaimana dengan layanan purnajualnya?" — Warganet Indonesia ramai-ramai mengeluhkan buruknya dukungan purnajual untuk kendaraan listrik.
Read More
Next
Saat ini, banyak pemilik mobil lebih memilih untuk terus mengendarai kendaraan bermesin pembakaran internal mereka yang sudah berumur daripada beralih ke mobil listrik bekas. Menurut Anda, apakah sikap ini masuk akal? Jika Anda hendak membeli mobil listri
Read More