Home > Blog > "Mobilnya sudah terjual—tapi bagaimana dengan layanan purnajualnya?" — Warganet Indonesia ramai-ramai mengeluhkan buruknya dukungan purnajual untuk kendaraan listrik.

"Mobilnya sudah terjual—tapi bagaimana dengan layanan purnajualnya?" — Warganet Indonesia ramai-ramai mengeluhkan buruknya dukungan purnajual untuk kendaraan listrik.

By Evelyn July 20th, 2026 16 views
Pasar kendaraan listrik di Indonesia menyajikan gambaran yang sangat kontras. Di satu sisi, angka penjualan melonjak—dengan volume sepeda motor listrik yang diproyeksikan melampaui 500.000 unit pada tahun 2026—namun di sisi lain, keluhan dari para pemilik kendaraan listrik di Indonesia semakin ramai bermunculan di media sosial. Kendaraan terjual laris, tetapi layanan purnajual justru sulit didapatkan; inilah kenyataan yang paling ironis dari pasar kendaraan listrik Indonesia.
Perhatikan sebuah kejadian yang membuat ngeri setiap pemilik kendaraan listrik. Seorang pemilik Hyundai Ioniq 5 terpaksa melakukan pengereman mendadak akibat kemacetan di jalan raya; sebotol minuman (seharga 33.000 rupiah) tergelincir dari tempat gelas di bagian belakang, dan cairannya merembes masuk ke konektor rangkaian kabel di bawah jok. Beberapa menit kemudian, lampu peringatan di dasbor menyala dan lampu rem tidak berfungsi; setibanya di rumah, pemilik bahkan tidak bisa mematikan mesin kendaraan. Hasil pemeriksaan di bengkel resmi menunjukkan biaya perbaikan mencapai 119 juta rupiah (sekitar US$12.000). Minuman seharga 2 dolar AS itu akhirnya harus dibayar dengan biaya yang setara dengan uang muka sebuah rumah kecil. Yang lebih menjengkelkan lagi, pihak bengkel menolak klaim garansi dengan alasan adanya "faktor eksternal", bukan karena cacat produksi.

Ini bukan kasus yang berdiri sendiri; Wuling Binguo EV juga telah terjerat dalam sengketa konsumen. Setelah membeli kendaraan baru seharga 320 juta rupiah pada bulan September 2024, seorang pemilik mendapati bahwa buku panduan untuk unit pengisian daya dan perangkat perbaikan ban hanya tersedia dalam bahasa Inggris dan Mandarin, tanpa adanya versi bahasa Indonesia. Lebih parahnya lagi, pengisi daya kendaraan tersebut tidak kompatibel dengan sistem penagihan perusahaan listrik negara (PLN), sehingga pemilik tidak dapat menikmati tarif listrik diskon di luar jam sibuk—sebuah detail penting yang sama sekali tidak disebutkan selama proses penjualan. Pemilik tersebut telah mengajukan keluhan terhadap Wuling kepada lembaga penyelesaian sengketa konsumen di Indonesia, dan kasus ini kini telah memasuki tahap mediasi. Sebelumnya, lebih dari 500 pemilik telah menandatangani petisi bersama sebagai bentuk protes atas pemotongan harga hingga 180 juta rupiah untuk Wuling Binguo dalam kurun waktu hanya tujuh bulan.
Data dari Kementerian Perdagangan RI semakin memperlihatkan betapa seriusnya masalah ini. Sepanjang tahun 2025, Kementerian menerima total 7.887 laporan konsumen; keluhan terkait barang elektronik dan kendaraan bermotor terutama berpusat pada tiga masalah: ketidaksesuaian antara produk dan klaim promosi, barang rusak, serta kesulitan dalam memproses klaim garansi di pusat layanan. Dengan kata lain, masalahnya bukanlah pemilik mobil di Indonesia tidak memiliki keinginan untuk memperjuangkan hak-hak mereka, melainkan karena mereka tidak menemukan pihak yang mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.

Penyebab lambatnya layanan purnajual sangatlah jelas: kekurangan parah teknisi perawatan profesional. Seorang juru bicara komunitas sepeda motor listrik Indonesia secara terus terang menyatakan bahwa tanpa jumlah teknisi terampil yang memadai, target negara untuk menghadirkan 120 juta sepeda motor listrik di jalan raya hanya akan menjadi "visi besar di atas kertas." Program pelatihan saat ini hanya mampu menampung puluhan hingga beberapa ratus orang dalam satu waktu—jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan besarnya permintaan pasar. Sementara itu, banyak merek asal Tiongkok di pasar Indonesia lebih mengutamakan penjualan dibandingkan layanan; staf dukungan pelanggan bahkan sering kali tidak dapat menjawab pertanyaan teknis dasar dalam bahasa Indonesia.
Kemampuan menjual kendaraan namun kegagalan dalam menyediakan dukungan purnajual yang memadai telah menjadi faktor penentu keberhasilan atau kegagalan bagi merek-merek di pasar kendaraan listrik Indonesia. Konsumen membeli kendaraan listrik demi kenyamanan dan penghematan biaya; bagi produsen, kegagalan dalam memberikan layanan purnajual berarti angka penjualan yang tinggi hanyalah sekadar transaksi sekali jalan.
Motor listrik tiba-tiba kehilangan tenaga? Cek 4 titik modifikasi yang umum di Indonesia ini.
Previous
Motor listrik tiba-tiba kehilangan tenaga? Cek 4 titik modifikasi yang umum di Indonesia ini.
Read More
Saat ini, banyak pemilik mobil lebih memilih untuk terus mengendarai kendaraan bermesin pembakaran internal mereka yang sudah berumur daripada beralih ke mobil listrik bekas. Menurut Anda, apakah sikap ini masuk akal? Jika Anda hendak membeli mobil listri
Next
Saat ini, banyak pemilik mobil lebih memilih untuk terus mengendarai kendaraan bermesin pembakaran internal mereka yang sudah berumur daripada beralih ke mobil listrik bekas. Menurut Anda, apakah sikap ini masuk akal? Jika Anda hendak membeli mobil listri
Read More