Home > Blog > Dari "Cinta pada Pandangan Pertama" hingga "Mimpi Buruk": Kumpulan Kisah Pahit Pemilik Kendaraan Listrik di Indonesia Terkait Layanan Purnajual

Dari "Cinta pada Pandangan Pertama" hingga "Mimpi Buruk": Kumpulan Kisah Pahit Pemilik Kendaraan Listrik di Indonesia Terkait Layanan Purnajual

By Evelyn July 24th, 2026 29 views
Penghematan biaya bahan bakar di masa lalu kini berganti menjadi air mata akibat besarnya biaya perbaikan.
Dua tahun lalu, demam kendaraan listrik melanda jalanan Indonesia; pesanan di pameran otomotif Jakarta membeludak hingga menyebabkan antrean inden selama enam bulan. Para pemilik dengan bangga membagikan rincian biaya pengisian daya dan memuji efisiensinya—biaya per kilometernya kurang dari sepertiga biaya mobil bensin, ditambah lagi dengan adanya pembebasan pajak dan pengecualian dari aturan pembatasan lalu lintas; semuanya tampak sempurna. Namun, kurang dari dua tahun kemudian, sentimen di komunitas daring berubah drastis; keluhan bermunculan yang menyebut kepemilikan kendaraan ini sebagai "pemborosan total" atau "penipuan".
Kisah Pertama: Menunggu satu suku cadang begitu lama hingga seorang anak belajar berjalan.
Seorang pemilik mobil di Surabaya mengalami tabrakan dari belakang yang hanya mengharuskan penggantian lampu depan dan bumper. Pihak resmi menyatakan bahwa suku cadang tersebut harus didatangkan dari Tiongkok, dengan perkiraan waktu tunggu tiga bulan. Pada akhirnya, suku cadang itu baru tiba setelah enam bulan; selama masa penantian tersebut, ia terpaksa menyewa mobil untuk beraktivitas dan menghabiskan lebih dari 20.000 RMB untuk biaya sewa.

Kisah 2: Masalah baterai—biaya perbaikan melampaui harga beli.
Seorang pengemudi layanan transportasi daring di Bandung mendapati jarak tempuh baterai kendaraannya merosot drastis setelah menempuh jarak 80.000 kilometer. Hasil pemeriksaan menunjukkan perlunya penggantian modul dengan estimasi biaya hampir 50.000 RMB—padahal ia membeli mobil tersebut seharga 70.000 RMB setelah dipotong subsidi. Ia berkomentar dengan nada getir, "Saat mobil ini akhirnya harus masuk tempat pembuangan besi tua, penghematan biaya bahan bakar yang terkumpul mungkin hanya cukup untuk menutupi biaya penggantian satu baterai saja."
Kisah 3: Pembaruan perangkat lunak membuat mobil mati total (menjadi "batu bata").
Seorang pemilik mobil di Yogyakarta menerima notifikasi pembaruan *over-the-air* (OTA), namun aliran listrik terputus di tengah proses tersebut. Sistem mengalami kegagalan total, sehingga kendaraan sama sekali tidak dapat dinyalakan. Pihak layanan resmi menyatakan bahwa mobil harus diderek ke pusat layanan di ibu kota untuk proses *re-flash* sistem; pemilik harus menanggung sendiri biaya derek dan menjalani proses perbaikan yang memakan waktu hingga dua minggu.

Yang lebih umum terjadi, akibat kondisi geografis kepulauan Indonesia yang terpisah-pisah, banyak kota sama sekali tidak memiliki pusat layanan resmi; bahkan untuk masalah sepele, kendaraan harus dikirim menyeberangi laut demi perbaikan, sehingga pemilik dibuat frustrasi oleh biaya pengiriman yang sangat mahal dan waktu tunggu yang lama.
Kepada rekan-rekan di Thailand: sembari kita memandang dengan iri gelombang kendaraan listrik yang melanda negara-negara tetangga, mari kita juga sejenak mencermati stasiun pengisian daya dan bengkel yang ada di sekitar kita sendiri. Meskipun seruan untuk melakukan revolusi mungkin terdengar lantang, kita harus memastikan bahwa dukungan purna jual tidak menjadi "titik lemah" yang justru menghambat kemajuan kita.
Previous
"Murah saat dibeli, tapi mahal saat diperbaiki"—seorang warganet Indonesia membagikan tagihan perbaikan yang fantastis untuk kendaraan listrik; apakah Anda masih berani membelinya setelah melihat ini?
Read More
Saat ini, banyak pemilik mobil lebih memilih untuk terus mengendarai kendaraan bermesin pembakaran internal mereka yang sudah berumur daripada beralih ke mobil listrik bekas. Menurut Anda, apakah sikap ini masuk akal? Jika Anda hendak membeli mobil listri
Next
Saat ini, banyak pemilik mobil lebih memilih untuk terus mengendarai kendaraan bermesin pembakaran internal mereka yang sudah berumur daripada beralih ke mobil listrik bekas. Menurut Anda, apakah sikap ini masuk akal? Jika Anda hendak membeli mobil listri
Read More