Pengalaman nyata pengemudi layanan transportasi daring: Menempuh jarak 200 km sehari—apakah skuter listrik benar-benar hemat biaya?
By Evelyn
July 8th, 2026
22 views
Bagi pengemudi ojek online (ojol), menempuh jarak 200 kilometer sehari adalah hal yang lumrah. Mari kita bedah rincian biayanya.
Pertama, mari kita lihat biaya energinya.
Untuk sepeda motor berbahan bakar bensin yang menggunakan BBM subsidi jenis "Pertalite" (seharga Rp10.000 per liter), tingkat konsumsinya sekitar 0,025 liter per kilometer; menempuh jarak 200 kilometer membutuhkan 5 liter, sehingga biaya bahan bakar harian mencapai sekitar Rp50.000.
Sebaliknya, untuk sepeda motor listrik yang diisi daya di rumah, tarif listrik bersubsidi berkisar antara Rp415 hingga Rp605 per kWh. Dengan konsumsi energi sekitar 0,03–0,04 kWh per kilometer, perjalanan sejauh 200 kilometer menghabiskan 6–8 kWh, dengan biaya hanya sekitar Rp2.500–Rp4.800 per hari. Bahkan saat menggunakan stasiun pengisian daya umum (dengan tarif sekitar Rp2.466 per kWh), biaya hariannya tetap di bawah Rp20.000.
Sekarang, mari kita lihat biaya perawatannya.
Biaya perawatan tahunan untuk skuter berbahan bakar bensin (ganti oli, ganti filter, dll.) berkisar antara 600.000–800.000 VND. Skuter listrik tidak memiliki mesin pembakaran internal dan tidak memerlukan penggantian oli, sehingga biaya perawatan tahunannya hanya 150.000–200.000 VND.
Bagaimana perbandingannya dalam kurun waktu satu tahun?
Berdasarkan jarak tempuh harian 200 km (total 6.000 km per bulan):
Skuter bensin: Biaya bahan bakar ~1,5 juta VND/bulan + biaya perawatan (proporsional) ~60.000 VND/bulan = ~1,56 juta VND/bulan
Skuter listrik: Biaya listrik ~75.000–140.000 VND/bulan + biaya perawatan (proporsional) ~15.000 VND/bulan = ~90.000–160.000 VND/bulan
Anda menghemat lebih dari 1,4 juta VND per bulan—itu berarti 17 juta VND dalam setahun!
Pertimbangan praktis
Tentu saja, sepeda motor listrik bukannya tanpa kekurangan. Kekhawatiran akan jarak tempuh (*range anxiety*) merupakan masalah nyata—sebagian besar model memiliki jarak tempuh sekitar 100 kilometer, yang berarti perjalanan pulang-pergi sejauh 200 kilometer mengharuskan pengendara untuk menukar atau mengisi ulang baterai di tengah perjalanan. Untungnya, di wilayah seperti Jakarta, Indonesia, sudah tersedia lebih dari 2.000 stasiun penukaran baterai, dan sistem penukaran ini memungkinkan proses tersebut selesai hanya dalam waktu tiga menit. Selain itu, harga beli awal sepeda motor listrik biasanya lebih tinggi dibandingkan sepeda motor berbahan bakar bensin, sehingga skema cicilan atau opsi pembiayaan (*leasing*) patut dipertimbangkan.
Kesimpulan
Bagi pengemudi layanan transportasi *online* yang menempuh jarak 200 kilometer per hari, sepeda motor listrik jelas merupakan pilihan yang hemat biaya. Meskipun investasi awalnya sedikit lebih tinggi, penghematan bulanan dari biaya bahan bakar dan perawatan cukup untuk menutupi selisih harga tersebut. Di tengah harga bahan bakar yang masih tinggi, beralih ke sepeda motor listrik bisa menjadi cara paling langsung untuk meningkatkan pendapatan bersih Anda. Jika Anda beroperasi di kota dengan infrastruktur penukaran baterai yang memadai—seperti Jakarta—hal ini tentu layak dipertimbangkan dengan serius. 🙏
Previous
Risiko Modifikasi Baterai Litium Tanpa Izin: Insiden Kebakaran dan Pelajaran dari Penolakan Klaim Asuransi
Read More
Next
Saat ini, banyak pemilik mobil lebih memilih untuk terus mengendarai kendaraan bermesin pembakaran internal mereka yang sudah berumur daripada beralih ke mobil listrik bekas. Menurut Anda, apakah sikap ini masuk akal? Jika Anda hendak membeli mobil listri
Read More