Dengan fluktuasi harga minyak baru-baru ini, banyak orang tergoda untuk beralih ke kendaraan listrik, berpikir mereka dapat menghemat biaya bahan bakar secara signifikan? Tunggu sebentar! Mari kita hitung. Di Indonesia, situasi saat ini mungkin "menghemat bahan bakar tetapi tidak menghemat uang," atau bahkan tidak menghemat apa pun!
Mengapa? Karena harga kendaraan listrik kemungkinan akan meroket! Hingga Maret 2026, belum ada jawaban pasti apakah pemerintah akan melanjutkan subsidi kendaraan listrik tahun ini. Menurut penelitian dari Universitas Indonesia, setelah subsidi dihentikan, harga kendaraan listrik dapat melonjak 30% hingga 40%. Ini berarti bahwa mobil yang awalnya berharga 100 juta Rupiah Indonesia tiba-tiba bisa berharga tambahan 30 hingga 40 juta Rupiah! Berapa tahun bahan bakar yang bisa dibeli dengan uang tambahan itu?
Meskipun setiap kendaraan listrik memang dapat menghemat sekitar 6,9 juta rupiah biaya bahan bakar setiap tahunnya, penghematan tersebut dapat diabaikan dibandingkan dengan harga pembelian yang tinggi dan tidak pasti. Belum lagi, mengubah sepeda motor tua menjadi kendaraan listrik dapat menghabiskan biaya hingga 17 juta rupiah – hampir sama dengan harga kendaraan listrik baru kelas entry-level.
Realitasnya memang keras: di satu sisi, potensi hilangnya subsidi membuat kendaraan listrik menjadi sangat mahal; di sisi lain, pajak impor baterai meningkatkan biaya keseluruhan. Dengan mempertimbangkan semua hal tersebut, penghematan bahan bakar pada akhirnya akan digunakan untuk harga pembelian.
Tentu saja, jika Anda masih peduli terhadap lingkungan setelah menghitung total biaya, itu tidak masalah. Tetapi jika Anda bertujuan untuk "menghemat uang," sebaiknya tunggu dan lihat kebijakan subsidi tahun ini, atau tetap gunakan sepeda motor berbahan bakar bensin saja!