"Mengapa dikatakan bahwa membeli mobil listrik bekas di Indonesia itu seperti membeli tumpukan besi tua?"
By Evelyn
March 20th, 2026
54 views
Jika Anda mempertimbangkan untuk membeli kendaraan listrik (EV) bekas dengan harga murah, pasar Indonesia mungkin akan membuat Anda kecewa. Di sini, pasar EV bekas menghadapi krisis kepercayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan secara bercanda disebut sebagai "memindahkan besi tua." Ini bukan berlebihan; hal ini berasal dari beberapa kenyataan pahit.
Pertama, pasar ini sangat tidak likuid. Data menunjukkan bahwa EV bekas hanya menyumbang 1% dari total transaksi di Indonesia. Karena tidak ada lembaga pembiayaan yang bersedia memberikan pinjaman, konsumen harus membayar penuh secara tunai. Mengingat sekitar 50% pembeli bergantung pada pinjaman, hambatan ini secara efektif menghilangkan setengah dari calon pelanggan.
Kedua, tingkat depresiasi nilai sisa sangat mengkhawatirkan. Perang harga dan penawaran promosi yang sering terjadi di pasar mobil baru telah menyebabkan tingkat depresiasi yang sangat tinggi untuk kendaraan listrik bekas. Mobil baru umumnya mengalami depresiasi sebesar 20% hingga 30% hanya dalam satu atau dua tahun; beberapa karyawan dealer bahkan menyatakan bahwa depresiasi dapat mencapai 30% hingga 40%. Misalnya, Hyundai Ioniq 5 baru berharga sekitar 844 juta VND, sedangkan model bekas tahun 2023 sekarang hanya dapat dijual sekitar 400 juta VND, penurunan lebih dari setengahnya.
Yang lebih penting lagi, begitu kendaraan dialihkan ke pemilik lain, garansi pabrikan asli seringkali berakhir. Untuk baterai, komponen termahal dengan risiko degradasi yang tidak diketahui, kehilangan garansi berarti pemilik mungkin harus menanggung sendiri biaya perbaikan atau penggantian yang sangat mahal di masa mendatang. Selain itu, kapasitas daur ulang dan pengolahan baterai di Indonesia masih sangat terbatas, dan pembuangan baterai bekas itu sendiri merupakan masalah lingkungan. "Logam bekas" di tangan Anda bahkan mungkin tidak memiliki tempat untuk pembuangan yang ramah lingkungan.
Selain itu, Indonesia memiliki batasan usia yang ketat untuk mobil bekas impor (harus ≤5 tahun). Bahkan jika Anda ingin mencari kendaraan listrik bekas "baru" dari luar negeri, proses sertifikasi yang rumit dan PPN 11% akan membuat Anda mempertanyakan pilihan hidup Anda. Dalam ekosistem ini, membeli kendaraan listrik bekas bukan tentang mendapatkan harga murah, tetapi lebih seperti memegang kentang panas yang sulit untuk disingkirkan.
Previous
"Mobil baru langsung rusak begitu sampai? Seberapa burukkah kontrol kualitas kendaraan listrik di Indonesia?"
Read More
Next
Ingin menghapus batas kecepatan dan berkendara lebih cepat? Pertama, pahami risiko dan konsekuensi hukum dari pembatalan garansi.
Read More